KAOEM TELAPAK pada Pertemuan CITES CoP­13

Bangkok, 2­14 Oktober 2004: CITES (Convention on International Trade of Endangered Species of Fauna and Flora) merupakan sebuah konvensi internasional yang ditandatangani oleh 166 negara di dunia. Indonesia adalah salah satu negara yang telah meratifikasi (menandatangani) konvensi tersebut. Setiap 2 tahun sekali, dilakukan pertemuan reguler atau dikenal dengan nama Conference on Parties (CoP) diantara negara­negara penandatangan konvensi tersebut. Dalam setiap CoP dilakukan pembahasan detil mengenai hal­hal yang menyangkut administrasi dan kesepakatan mengenai aturan perdagangan atas jenis­jenis satwa maupun tumbuhan terancam punah di dunia. Aturan perdagangan tersebut dikenal dengan istilah Appendix yang terdiri atas Appendix I, II, dan III. Read more

Semprotan Maut di Nusantara

Pembelajaran dari Transformasi Pengambilan Ikan dengan Bahan Beracun Menuju Pengelolaan Sumberdaya Laut dan Pesisir Berbasis Masyarakat

Jika anda bisa meluangkan waktu beberapa hari di sekitar pulau Bokori – Kendari misalnya, maka anda akan tidak asing lagi mendengar suara dentuman bom yang dilakukan oleh sebagian masyarakat sekitarnya untuk mencari ikan setiap harinya. Atau mungkin anda ingin meluangkan waktu untuk berkunjung ke daerah karang di beberapa perairan bagian Timur Indonesia maka anda tidak akan asing lagi melihat beberapa perahu dengan kompresor menyuplai udara untuk beberapa penyelam di bawahnya yang sedang asik menyemprotkan larutan kimia pada ikan-ikan yang bersembunyi di sela-sela karang. Dua contoh di atas memberikan gambaran bahwa kegiatan penangkapan ikan denga cara-cara yang merusak masih terus berlangsung dengan amannya, dan aktivitas yang sama tidak hanya terjadi di dua daerah tersebut, bahkan dari data yang dikumpulkan menunjukkan lebih dari 50% produksi ikan karang kita (baik untuk ikan konsumsi maupun ikan hias) dihasilkan dari cara tangkap yang merusak tersebut. Padahal sudah 5 dekade sejak pertama kali penangkapan ikan yang merusak merasuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat perikanan kita, namun sampai saat ini permasalahan ini masih saja berlanjut bahkan cenderung meningkat intensitasnya. Read more

Deadly Spray from the Archipelago

Lessons Learn from the Transformation of Cyanide Fishing to Community Base Coastal Resource Management

If you spend a few days on Bokori Island – Kendari, for example, then you will be familiar with the sound of blast fishing which the local people do to catch fish every day. Or perhaps you want to visit the coral reefs in the eastern Indonesian waters, then you will notice several boats equipped with compressors supplying oxygen to the divers who are busy spraying cyanide on fishes hiding inside and between the reefs. The above two examples show how destructive fishing still occurs unhindered. The same activities unfortunately have been practiced elsewhere in Indonesia. In fact, field data shows that more than 50% of reef fish production (both for consumption and ornamental purposes) is caught using these destructive techniques. It has been five decades since this problem first arose and it keeps going on unabated with even increasing intensity. Read more

Coral Reef Destruction should be Included in the First 100 Day Agenda of the New Minister of Marine and Fishery

Jakarta, 2 November 2004. Today a complete report on coral reef destruction, generated by destructive fishing and poor law enforcement in marine sector, has been launched by an NGO concerned about marine affairs. The issue is considered so important that the new Minister of Marine and Fishery is recommended to give it top priority during his first 100­day agenda. Read more

Kerusakan Terumbu Karang Perlu Menjadi Agenda Kerja 100 Hari Pertama Menteri Kelautan yang Baru

Jakarta, 2 November 2004. Sebuah laporan lengkap mengenai kerusakan terumbu karang karena racun sianida dan kelemahan penegakan hukum di sektor kelautan telah diluncurkan oleh sebuah LSM pemerhati laut. Penanganan masalah ini dianggap sebagai hal penting yang perlu diprioritaskan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dalam agenda kerja 100 hari pertamanya. Read more